Ada
hal yang menggelitik pada acara peringatan Hari Tani Nasional, 24
September 2012 lalu di desa Wiromartan, Mirit. Belasan boneka “hantu
sawah” dibuat dan dipasang petani Urutsewu di seputar posko tepian
Jl. Daendels dengan beragam bentuknya. Aksi pada hari itu, sepi dari
liputan media. Dan hanya sedikit warga yang memotret pemasangan ini.
Lalu-lalang pengendara hanya sekilas menoleh kegiatan yang tak biasa
ini. Namun beberapa pengemudi mobil memperlambat laju kendaraannya
sembari mengacungkan ibu jari ke arah kerumunan petani. Ternyata
kegiatan serupa juga dilakukan dua desa lainnya, Tlogodepok (Mirit)
dan Kaibonpetangkuran (Ambal).
Diakui
pula bahwa pilihan memasang hantu sawah di tepian jalan beraspal yang
melintasi desa-desa pesisir Urutsewu ini, lebih dari perlawanan
simbolik semata. Setelah berbagai aksi protes dan penolakan dilakukan
selama ini tak membuahkan hasil, maka pemasangan hantu sawah ini
seakan membangkitkan momok dari sawah lalu membariskannya di tepian
jalan. Agar semua orang dapat melihat dan membaca serta memahami
persoalan di balik semuanya.
Kemarahan
Inspiratif
Ya,
intinya tetap sama; seperti diituturkan petani, menghalau apa dan
siapa saja yang bakal dan telah mengganggu petani. Semua orang
mengiyakan ini sebagai tujuan bersama. Lalu dilakukan bersama-sama.
Menolak penambangan pasirbesi di kawasan pesisir selatan yang popular
disebut kawasan Urutsewu ini. Penolakan ini sama dan sebangun dengan
petani Urutsewu di desa lainnya yang menolak kawasan pesisir dipakai
sebagai ajang latihan perang dan ujicoba senjata berat. Bahkan
dengan alasan kepentingan Negara yang didalihkan sebagai kawasan
pertahanan keamanan sekalipun.
Betapa pun kerasnya
protes dilakukan selama ini, namun ketika pemerintah melegitimasi
pemanfaatan kawasan tradisional agraris ini untuk aktivitas
non-pertanian; kemarahan sosial menjadi layaknya bara dalam sekam.
Kemarahan inspiratif. Bahkan ketika petani berduyun kembali meninjau
lokasi pertambangan, tak nampak ada ekspresi kecewa. Namun
kegembiraan juga mengendap menjadi bayangan ganjil pada sosok-sosok
boneka medi-sawah yang dipasang di tepian jalan raya.
Dimungkinkan jumlah momok ini akan bertambah seiring malam yang
menggetarkan harapan layup. Harapan ribuan petani yang menyadari
bahwa yang dilakukan sekarang adalah pertaruhan masa depan…
0 komentar:
Posting Komentar